KUALA LUMPUR - Mantan Perdana Menteri Malaysia Mahathir
Mohamad berkomentar mengenai proses reformasi di negaranya. Sejauh
ini, beberapa pihak menganggap reformasi akan menghilangkan ketegangan
antaretnis di Malaysia, namun Mahathir justru mengatakan sebaliknya.
Pria berusia 86 tahun itu mengutarakan kekhawatirannya terhadap langkah-langkah yang dilakukan Perdana Menteri Najib Razak. Mahathir menganggap Najib terlalu lembut dalam menyikapi oposisinya.
"Kita membutuhkan pemerintahan yang kuat. Mereka harus adil dan juga tegas," ujar Mahathir, seperti dikutip AFP, Minggu (17/6/2012).
Mahathir yang pensiun pada 2003 silam mengingatkan kembali tentang munculnya demonstrasi di negaranya. Menurut Mahathir, terlalu sering memberi kebebasan pada masyarakat akan menimbulkan resiko yang berat. Akan muncul sebuah perseteruan antarentis di Negeri Jiran itu.
"Saat ini, kita ingin menjadi liberal, tapi apa yang terjadi saat ini? Kita justru sangat memperhatikan isu rasial. Banyak warga yang menuduh warga lainnya rasial," imbuhnya.
Mahatir menilai, kampanye persatuan ras yang diusung oleh Najib sama sekali tidak bermakna. Mahathir pun mengkritisi kebijakan Najib yang tidak menahan seseorang atas dasar pemikiran politiknya. Kebijakan itu dianggap membuka pintu untuk masuknya ekstrimisme.
"Kita semua harus mengharapkan sebuah transisi kekuasaan yang mulus, namun bila koalisi Pemerintah Malaysia tidak bisa melakukan itu, peristiwa ini tidaklah baik untuk Malaysia," tutupnya.
Pria berusia 86 tahun itu mengutarakan kekhawatirannya terhadap langkah-langkah yang dilakukan Perdana Menteri Najib Razak. Mahathir menganggap Najib terlalu lembut dalam menyikapi oposisinya.
"Kita membutuhkan pemerintahan yang kuat. Mereka harus adil dan juga tegas," ujar Mahathir, seperti dikutip AFP, Minggu (17/6/2012).
Mahathir yang pensiun pada 2003 silam mengingatkan kembali tentang munculnya demonstrasi di negaranya. Menurut Mahathir, terlalu sering memberi kebebasan pada masyarakat akan menimbulkan resiko yang berat. Akan muncul sebuah perseteruan antarentis di Negeri Jiran itu.
"Saat ini, kita ingin menjadi liberal, tapi apa yang terjadi saat ini? Kita justru sangat memperhatikan isu rasial. Banyak warga yang menuduh warga lainnya rasial," imbuhnya.
Mahatir menilai, kampanye persatuan ras yang diusung oleh Najib sama sekali tidak bermakna. Mahathir pun mengkritisi kebijakan Najib yang tidak menahan seseorang atas dasar pemikiran politiknya. Kebijakan itu dianggap membuka pintu untuk masuknya ekstrimisme.
"Kita semua harus mengharapkan sebuah transisi kekuasaan yang mulus, namun bila koalisi Pemerintah Malaysia tidak bisa melakukan itu, peristiwa ini tidaklah baik untuk Malaysia," tutupnya.
take from : okezone news
Tidak ada komentar:
Posting Komentar